Chapter 1 D-Day
Televisi itu sudah agak tua, jam kerjanya tiap hari melebihi jam kerja petugas keamanan. Tapi hari ini kami semua mengharapkan jasa televisi ini lebih dari hari-hari lain. Hari ini telah ditunggu-tunggu oleh semua orang di dunia, karena hari ini adalah hari peluncuran pesawat berpenumpang menuju planet Mars. Proyek yang merupakan jalinan kerjasama antara pihak Jepang dan Uni Eropa ini telah memakan waktu 14 tahun untuk akhirnya dilaksanakan. Dan harinya adalah hari ini.
Mungkin perasaan orang-orang saat ini seperti perasaan di tahun 1969, dimana pada tanggal 20 Juli Amerika berhasil menapakan kakinya untuk pertama kali di Bulan melalui Astronot Neil Amstrong. Dengan bantuan teknologi saat ini manusia hanya butuh waktu 4 bulan untuk sampai di planet merah. Jalinan kerja sama ini mengirimkan 4 orang astronot, 1 dari Jepang, 1 orang dari Perancis, 1 orang dari Inggris dan 1 orang dari Swiss.
Buat Tom ini adalah peristiwa bersejarah yang haram untuk dilewatkan. Perasaannya mungkin sama dengan perasaan para ilmuwan, teknisi, dan ahli-ahli lainnya di ruang kendali. Perasaan takjub, bangga, senang, dan perasaan-perasaan lain yang sulit untuk diungkapkan lagi. Takjub karena manusia telah mampu melangkah lebih jauh lagi dalam alam semesta ini, bangga karena bisa menjadi bagian saksi sejarah, senang karena dia tidak ketiduran untuk menyaksikan ini.
Tom adalah orang yang tergila-gila dengan pengetahuan astronomi, dan kadang beberapa orang mengira dia gila karena hal itu. Tom gemar membaca bacaan-bacaan tentang luas angkasa, kehidupan di luar sana, planet-planet yang berpenghuni, penculikan mahluk luar angkasa, dan hal-hal lain yang sejenis. Latar belakang ketertarikannya hanya berawal dari sifat dasar manusianya, penasaran. Adalah sifat dasar manusia dimana ketika kita tidak mengetahui tentang sesuatu, maka kita akan menerka-nerka hal tersebut, dan intensitas menerka-nerka dalam pikiran itulah yang mengasah rasa penasaran semakin tajam. Pemikiran Tom hanya berawal dari sesuatu yang sederhana, seperti, apakah bila ada kehidupan di luar sana warna daun akan tetap hijau? apakah kita bisa melompat lebih tinggi di planet dengan gravitasi yang lebih lemah? apakah kita bisa jadi “superman” di planet lain? Beberapa pemikiran kadang berbobot, kadang juga tidak.
Tom menyaksikan siaran langsung peluncuran dengan sangat serius, beberapa kali menyibak poni rambutnya ke kanan setiap kali menghalangi pandangannya. Beberapa kali juga dia mengumpat setiap kali siaran langsung ini dipotong oleh iklan minuman energi, yang dia yakin, tidak ada korelasi secara langsung dengan acara peluncuran ini.
Seorang pembawa acara muncul dan mengumumkan bahwa peluncuran akan dimulai tepat 20 menit lagi. Tidak mundur dari jadwal yang sudah ada sebelumnya. Perasaan Tom makin tidak karuan. Dengkulnya menjadi lemas, tangannya dingin, dan rasanya menjadi sulit sekali untuk bernafas normal.
“Pemirsa dalam waktu kurang lebih 18 menit dari sekarang kita semua akan menjadi saksi peluncuran pesawat berpenumpang pertama menuju planet Mars”, ujar seorang reporter wanita asal Amerika sambil dilatar belakangi roket peluncur dengan lampu kecil warna warni yang berkelap-kelip.
“Maaaa.. Paaaaa.. udah mau meluncur”, teriak Tom kepada penghuni rumah. Tom merasa sedikit kesal karena merasa orang lain di rumah menganggap hal ini biasa-biasa saja.
“Woiii..ga ada yang mau jadi bagian sejarah yah ini orang di rumah?”, teriak ke arah ruang lain rumah itu tanpa melepas pandangan ke televisi.
“Dan pemirsa sekalian, sebentar lagi penghitungan mundur akan dimulai..”, reporter yang sama menginformasikan dengan ekspresi yang luar biasa serius.
Seakan wajahnya baru saja menginformasikan bahwa telah terjadi pembunuhan presiden.
Tom mencondongkan tubuhnya, kini reporter wanita itu sudah tidak ada di dalam layar televisi. Yang ada tinggal roket pendorong yang menjulang tinggi, dengan langit hitam bersih tanpa awan, tanpa bulan yang dihiasi lampu-lampu kecil saja pada menara-menara penyangga. Tom berfikir entah apa perasaan para astronot yang tengah bersiap di dalam pesawat itu. Tiba-tiba perutnya menjadi mual memikirkan hal itu.
PENGHITUNGAN MUNDUR AKAN DIMULAI DALAM 2 MENIT
Muncul running text pada televisi, tanpa ada komentator semakin membuat suasana menjadi lebih tegang. Menara-menara penyangga roket mulai terlepas, dan menjauh dari badan roket, hanya menyisakan satu menara tertinggi saja yang memiliki jembatan yg menuju pintu masuk pesawat. Sudah tidak terlihat lagi teknisi-teknisi di sekitar lokasi peluncuran. Pojok kiri televisi muncul angka penghitungan mundur. Akhirnya menara terakhir melepaskan diri dari badan pesawat. Waktunya sebentar lagi.
“ Launching start in.. 10..9..8..7..6..5..4..3..2..”, suara yang membuat semua orang menahan nafas.
Kilatan cahaya muncul dari bawah roket, mendorong cepat menara yang tinggi itu melesat ke langit. Lebih cepat daripada roket-roket yang biasa kita lihat pada video dokumenter NASA. Roket itu menembus langit hitam, hanya meninggalkan kerlap kerlip saja.
Tangan Tom mulai kembali hangat, nafas jg sepertinya sudah lebih teratur. Kini yang muncul adalah rasa lapar. Televisi masih menyala, masih membahas keberhasilan peluncuran roket yang dibaeri nama “JOURNEY I”. Tom pergi ke dapur untuk memeriksa isi kulkas yang bisa dimakan.
Tiba-tiba dari televisi terdengar berita yang membuat Tom berlari ke depan televisi lagi.
“Telah terdengar kabar bahwa markas utama peluncuran telah kehilangan kontak dengan para awak JOURNEY I, hanya selang beberapa menit saja dari waktu peluncuran. Para ahli masih mencari tahu penyebabnya, apakah masalah teknis atau hal lainnya”. Ujar reporter wanita dengan ekspresi yang lebih menyeramkan dari ekspresi sebelumnya.
Tom terbengong-bengong mendengar hal ini. Tak terbayang seperti apa wajah orang-orang di markas tempat peluncuran. Rasa penasaran kini muncul lebih deras dalam pikirannya.
“Kami mendapat laporan resmi bahwa markas kehilangan kontak dengan para awak JOURNEY I ketika pesawat baru saja melewati orbit bulan”, reporter yang sama kembali melaporkan.
Terbersit sedikit dalam pikiran Tom
“Melewati bulan?”
Advertisement




